Kupanggil dia Chenchen, nama sebenarnya Cen Siu Fen. Berkulit putih, rambutnya yang kaku sering diikat seperti buntut kuda, bermata sipit, pipinya tembem, bibirnya semerah buah ceri yang ranum. Aku suka sekali melihat dia tersenyum, wajahnya jadi mirip boneka, apalagi kalau dia tertawa..sering jadi bahan ledekanku. Saat dia tertawa terpingkal-pingkal, cepat2 aku lari bersembunyi, memperhatikan dia diam-diam dari tempat persembunyianku. Ketika suara tawanya sudah reda, saat itulah aku menikmati moment yang mengasikkan. Dia akan terkejut sendiri, mendapati aku telah hilang dari sampingnya, lalu beberapa saat akan kubiarkan dia memanggil-manggil namaku, bila perlu kubiarkan dia mencari-cari sambil meneriakkan namaku sampai sedikit agak panik, ini moment lain yang kusuka. Saat dia panik, pipinya akan semakin merah seperti buat tomat, matanya mulai digenangi air bening, maka seketika aku akan melompat ke hadapannya, dan Chenchen tidak jadi menangis, tapi pipinya akan semakin memerah, seperti buah tomat yang siap meledak. “Makanya Chen, kalo tertawa jangan sambil tidur…”