Showing posts with label just poetry. Show all posts
Showing posts with label just poetry. Show all posts

Wednesday, 20 April 2011

Sajak Burung-burung Kondor (poenya) WS Rendra



Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi

Tuesday, 19 April 2011

The Last Poetry Of WS Rendra

Seringkali aku berkata,
ketika semua orang memuji milikku..

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNYa
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Putraku hanyalah titipanNya

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa DIA menitipkan padaku?
Untuk apa DIA menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehNya
Ketika diminta kembali kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apasaja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsu

Aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, popularitas
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan
seolah semua derita adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan DIA seolah mitra dagang dan bukan seperti kekasih
Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu,bencana dan keberuntungan sama saja".





(Puisi terakhir yang ditulisnya di ranjang rumah sakit)
Selamat jalan.. Sang Maestro........


Tuesday, 22 March 2011

Tuntutan Rasa

 Selamat malam cinta


Aku hanya perlu sedikit bayangmu
Aku hanya inginkan sekelebat rohmu
Ijinkan dia datang merasuk sukmaku
Dan gauli jiwaku…



Malam ini hujan sayang…
Guntur dan kilat saling meraung
Aaaah… aku menuntut ragamu disini,
Aku bermain dengan hayalku…


Kau gemetar dalam pelukku, layaknya bumi ini gempa sesaat
Aku akan hanyut dalam getar tubuhmu…
Kita saling berpegang erat… begitu erat satu sama lain.
Dipuncak rasa kita akan meledak bersama-sama
Seperti gunung yg muntahkan magmanya..
Panas! Membara! Dan tanpa kedali!



Aku tak akan peduli dengan apapun
Kau milik siapa… aku pecundang… perampok rasa…
Aaaahhh aku tak peduli!
Aku inginkan tubuhmu…
yg aku mau ragamu dalam pelukku
Karena rohku dan jiwamu sudah terkait erat lebih dulu…


Malam ini aku ingin ragamu mengerang ditelingaku
mmmmmmmmmm aku mencintaimu….
Aaaaaaaaahhhh…. Aku mencintaimu…


Aku akan menatapmu penuh cinta …
jauh kedalam relung jiwamu…
Indah… seperti semburat jingga saat senja
Aku akan ikat jiwamu lewat ragaku…
Kau milikku! Terserah dunia katakan darahku darah pecundang!



Saat aku dengar eranganmu di telingaku
Saat kurasa seperti Guntur yg bergemuruh diatas ranjangku
Saat Kau mengerang begitu keras di telingaku
Saat itu… ku kunci rohmu dalam jiwaku!
Kemarilah sayang…
Sungguh malam ini aku menuntut ragamu dalam desahku
Aku tuntut erang panasmu menjadi milikku!


Adalah hak ku liar atas ragamu!
adalah hakku berpeluh desah dan gelinjang malam dalam rona erang erotismu
adalah hak ku melihatmu tersiksa dalam gelora panasku
karena jiwa dan roh kita telah jauh terkait
AKU TUNTUT RAGAMU MALAM INI!
Aahh…. Aku adalah aku dalam semua gelinjang dan pesonaku
Dan itu semua untukmu!


Jingga


Friday, 18 March 2011

The Broken Glass


apa yang kau pikirkan?
apa yang kau rencanakan?
ketika rapuh itu ada dalam genggamanmu?

kau lihat?
apa yang bisa mengembalikannya 
utuh seperti semula?

kini...
kupunguti serpihannya
kau membuatnya hancur tak bersisa

pun
aku amat terluka
memalingkan wajah cinta
yang tak bisa kau hancurkan, seperti rapuh itu