Showing posts with label ode. Show all posts
Showing posts with label ode. Show all posts

Monday, 7 March 2011

Kerudung Cut Nyak



Dalam sebuah blog yang memuat riwayat Cut Nyak Dhien, ada semacam forum diskusi dari para folowernya, kebanyakan dari mereka sangat kagum dengan tindak tanduk perjuangan perempuan bernyali baja ini, doa-doa, puja-puji dan sanjungan mengundang rasa haru saya, entah lah hari ini benar-benar saya peringati dengan khidmat, segala sesuatu tentang dirinya.


Ada satu ungkapan yang menggelitik perasaan terdalam saya, dalam forum tersebut seseorang menuliskan opininya sebagai berikut: 


"Andai semua perempuan Indonesia memiliki semangat baja seperti Cut Nyak.. terutama istri-istri pejabat, pasti uang negara tidak habis berhamburan di pusat perbelanjaan luar negeri. Namun ada keheranan saya, sejak SD mengenal tokoh-tokoh pahlawan lewat potret yang ada dalam buku sejarah, seperti kita ketahui Cut Nyak Dien itu seorang muslimah, kenapa dalam gambar dan baju kebesaran pahlawan-nya, beliau tak menggunakan kerudung?", dan yang lain menjawab, sebagai berikut: "Tidak memperhatikan dengan jelas ya, yang membuat lukisan potret Cut Nyak Dien bukan orang Aceh, lalu perhatikan kembali, wajah semua pahlawan perempuan Indonesia disamakan dengan wajah R.A Kartini..", dan saya hanya tersenyum kecut menyimak diskusi forum di blog ini, dua opini ini benar adanya, jawaban dan pertanyaan saling melengkapi sejumlah cerita yang bisa dikembangkan sendiri.


Tidak! saya tidak mempermasalahkan ras, atau pemerintah orde baru yang telah membelokkan sejarah, dan hanya mengunggulkan satu sosok perempuan diantara barisan pahlawan di tanah air ini, dan kebetulan pemimpin orde baru kan.. he he sudah lah.. semua orang juga tahu kok..


Yang ingin saya garis bawahi adalah, KERUDUNG.. Benar! Cut Nyak Dien itu seorang muslimah, sebagai orang yang berpendidikan agama dia tahu cara memelihara auratnya, dia tahu kerudung adalah identitas seorang muslimah, dan dia salah satu pemilik 'maqom' para syuhada, tidak diragukan lagi. 


Kawan, bagi seorang berjiwa besar dan berahlak mulia bukan lagi nafsu yang dia pikirkan, kerudung bukan lagi hiasan untuk mempercantik penampilannya, kerudung bukanlah suatu benda riil yang menjadi polemik berkepanjangan antara halal dan haram, Cut Nyak Dien adalah pilihan Allah, dia pejuang yang mampu menginspirasi banyak perempuan, dan secara luas lagi, perjuangannya yang tak kenal lelah, lihatlah.. kenapa akhirnya dia memutuskan untuk turun ke medan laga.. SUMPAH SETIA! Cut NYak Dien meneriakkan sumpah nya pada langit yang memerah darah.. DIA HANYA AKAN MENIKAH DENGAN LELAKI YANG SANGGUP MENEMANINYA DI MEDAN TEMPUR! Membalas dendam atas kematian suami yang dicintainya, imam sejatinya gugur ketika menentang para kafir, lalu ketika melihat pembakaran Mesjid yang dilakukan oleh kompeni.. kembali sumpah yang lantang dia terikakan..


 “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).


Dan Allah menjawab do'a nya.. mengirimkan seorang syuhada kedua, suami yang mampu memberikan kebahagiaan padanya, suami yang bersedia turun ke medan tempur bersamanya. 


Cut Nyak Dien, puteri asli Tanah Aceh, puteri seorang bangsawan Uleebalang VI Mukim, Teuku Nata Seutia. Jelas bukan seorang perempuan pesolek, dia berpendidikan agama, dan terbukti kesetiaannya pada Islam agama yang dia anutnya, yang mampu mengobarkan semangat juangnya, sampai akhir hayat hidupnya di pengasingan, jauh dari tanah yang dia bela, tanah yang dia perjuangkan, tanah yang dia jaga dari keserakahan para kafir yang mengangkangi kekayaan tanah leluhurnya. Suami pertamanya Teuku Ibrahim dan suami keduanya Teuku Umar adalah pahlawan besar kemerdekaan Indonesia.


Cut Nyak Dien berada di daerah Sumedang sampai akhirnya wafat, dan baru beberapa tahun kemudian diketahui bahwa makam di daerah Sumedang itu makam dari seorang pahlawan besar, untuk mengenangnya, di dekat makam dibangun sebuah mesjid kecil. 


*Berbahagialah dewi.. surga abadi menyambutmu penuh suka cita. Bahagia lah engkau jiwa pemberani! Dua imam-mu adalah pahlawan nan gagah berani, jodoh yang Allah kirimkan adalah jawaban atas doa'mu, atas kesetiaanmu menjaga sumpah pada perjuangan keyakinanmu. Kerudungmu adalah sumpah setiamu, tekad bulat untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. 


potret Cut Nyak Dien saat akhirnya ditangkap fihak Belanda.
sisa umurnya dihabiskan di pembuangan, Sumedang - Tanah Jawa.
Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 Nopember 1908
dimakamkan di Gunung Puyuh Sumedang, tempat pemakaman para ningrat, keluarga kerajaan.

(International Women's Day 8 Maret 2011)

Ode Untuk Cut Nyak


Ode ini ku persembahkan uktuk sosok seorang perempuan perkasa, karena aku mencintainya, aku kagum, hormat, dan karena aku senantiasa menyimpan namanya di tempat yang teramat istimewa di benak, nurani, dan setitik warna jiwaku.. CUT NYAK DIEN.. perempuan perkasa.. Ode ini ku persembahkan untuk jiwanya yang murni, pikirannya yang kokoh, kecerdasannya yang mengagumkan, kelembutan warna-warni auranya,  dan keimanannya yang teguh. 


Cut Nyak.. 
hampir tak kuasa menahan haru atas rindu yang dalam ini, 
ketika terbangun dari mimpi, 
tertegun.. haru ini kian membiru, 
bercucuran air mataku.. 
demi mengingat engkau lah yang hadir dalam mimpi yang menakjubkan ini. Puja-puji syukur kehadirat Allah yang Maha Agung, telah berkenan mempertemukan aku dengan kau, 
wahai jiwa suci..

Tak kuasa ku memahami tutur kata mu, 
tak kuasa ku memandang kearifan aura sejati, 
tak kuasa ku menatap paras mu nan elok, 
duhai bunga surgawi.. 
hatiku teramat keruh, 
pikiranku teramat kalut, 
nyali ciut sudah. 
Maafkan aku, dewi.. 
maafkan aku..

Aku hanya setitik debu di lautan berlian hatimu, aku hanya setitik kotoran yang mati dalam keagungan namamu, aku hanya mengagumi sosokmu, tanpa tahu apa arti perjuanganmu, aku teramat bodoh dan papa, berani-beraninya membuat goresan pujian untuk kau, dewi suci..

Tak ada kata yang sepadan untuk menggambarkan jerit dan tangis mu tak kala kau mencabik, merobek, menikam, menerjang anjing-anjing 'kafee' laknat itu.. untuk tanah air kita.. merdeka, merdekalah jiwa-jiwa yang berjuang bersamamu, para syuhada yang turut berjihad, mengusir keangkuhan, penghianat, dajjal! anjing-anjing 'kafee'..

Tak ada anugerah yang pantas meski tinta emas menggores namamu.. Darah mu, tetes keringat mu, air matamu.. tak kuasa menahan gemetar jiwaku, saat menuliskan bait-bait ini.. sungguh, nyaliku ciut, hatiku luluh lantak, tak kutemukan kata terindah untuk menghadirkan kembali harum tubuhmu disini, saat ini.. seperti yang kurasakan dalam mimpi tadi malam.


Rencong dan asma suci,
nyali membaja, 
pekik halilintar menyambar.. 
itu kau.. kau pahlawan. 
Ayat suci, disubuh hari.. 
pembasuh lelah dan letih, 
hujan dan hutan menaungi kau dari kejaran sang laknat.
Kau pahlawan, 
serambi mekah telah memanggilmu, 
tanah rencong telah memilihmu, 
Allah telah memuliakanmu, dewi..

Cut Nyak.. aku kembali menangis, 
sungguh ku ingin selalu dapat memanggil nama besarmu,
sungguh ku minta.. 
tetaplah bersemayam dalam setitik warna jiwaku.. 
tak kan henti ku mengagumi 
sorot tajam bola matamu, 
bagiku kau telah mengisyaratkan kekokohan imanmu. 
Subhanallah...

Allah akan senantiasa menyayangimu, menjagamu, dan menempatkanmu  di tempat yang terbaik, tempat para syuhada, yang berjihad atas kesucian ASMA-NYA. 

(International Women's Day, 8 maret 2011)