"Hai peri kecil, kenapa kau murung? lihat.. bintang dimatamu tak lagi berpijar terang, apakah hujan menghalangimu di perjalanan tadi?" Gadis kecil itu hanya menatapku dari sudut ruang yang meremang, ah.. peri laut, jangan bersedih, kau hanya membuat mega mendung berarak riang, hingga sinar bulan tak dapat menepi di daun jendela kamarku.
"Maaf.. aku tak bisa menembus mimpinya, sempat kubahagia demi melihat isi mimpinya di permukaan, tapi sesuatu telah menahanku, hingga aku terlontar keluar dari kotak mimpinya.." Dia menunduk, duh.. jangan kau teteskan butir mutiara itu peri.. aku tak bisa melihatmu sendu, bukankah kau identik dengan dentingan lonceng riang? celotehmu harusnya berisi marah atau senandung indah..


