Monday, 23 May 2011

Splash Of Though: Be Your Self!



Seorang teman mengirimku message berkali-kali, “Mbak, saya kangen tulisan-tulisanmu yang menggelitik..”  dan: “Kemanakah Arrayanov yang saya kenal lewat tulisannya…?” satu lagi: “Arrayanov is dead!”  wadddduuuuh!!! Teganya… teganya…teganya… (Megi Z mode On).
Teman, ketahuilah.. Saya memang sedang dilanda kebuntuan akhir-akhir ini, ide untuk menulis sih banyak sekali, tapi entah kenapa setiap kali memulai duduk, berhadapan dengan laptop, jari diatas keyboard… tiba-tiba semuanya lenyap! Menguap! Entah kemana perginya… Tapi baiklah, kali ini saya coba sekali lagi ya, dan saya sendiri tidak berharap banyak apakah tulisan ini nantinya seperti yang kau harapkan, atau malah mematikan seleramu untuk menyimak… whatever! Dan sebelum mulai membaca, coba nikmati dulu satu lagu dari penyanyi pujaan saya ya.. “English Man In New York, by Sting”

Monday, 25 April 2011

TENTANG SEJUTA RASA DI PENGHUJUNG PARADOKS



UNTUK PARADOKS


Menunggangi rasa, lalu melupakan jenuh sejenak. 
Mencari warna baru, dan mengumpulkan wajah syahdu
tentang aku, kamu, dan mereka. 
Dan tentang mimpi anak-anak yang hampir punah.
beringsut, lalu memanggil pergerakan dari seluruh penjuru kata


Kutengadahkan wajah dan kedua tanganku, ku mau Tuhan mendengarku, 
sekali lagi.. AKU TAK MAU HARI INI USAI! 
aku mau terus berkarya, bercanda, dengan semua itu aku belajar menjadi bersahaja..


Kuyakin ini tak kan sia-sia, walau segala penat mendera
Ini bukan sekadar menebar kata
bukan pula onggokan mimpi tiada arti
cintaku pada anak negeri adalah nyata


Separuh kata ini tersimpan, untuk kalian yang berada dalam maya. seakan nyata dalam gliman canda tawa..tangis ini bersamamu. mengharu biru ekpresikan sgala perasaa,...menurut panut akan panggilan jiwa......kalian tlah memangilku bersama. dalam kebersamaan yang begitu indah...
dongeng-dongen itu adalah nyata. tntang aku yag brada di kerajaan indah di atas awan.


Semua keajaiban ini muncul dalam sebuah awal kalimat, "Alkisah..."
Yuk ciptakan keajaiban itu, 
dan lihatlah binar-binar harapan di mata anak-anak nusantara.


Lalu perhatikan semua pandangan ceria ini. 
Memenuhi ruang harapan yang kembali tegak seperti luhurnya cerita-cerita penuh makna. 
Ini adalah pemberian kepada kebahagiaan, untuk semua yang pernah merasakannya


Haru biru ini.. terucap lewat air mata.. aku bangga.. aku bahagia.. 
kita semua mewujudkannya, aku..kamu..kita semua..



Untuk semesta nusantara, berbagi kata dan rasa
dalam gerak langkah sama, menjelma karya


Kata yang terakhir adalah harapan, 
impian selanjutnya adalah perjuangan. 
satu rasa satu jiwa dalam indahnya kebersamaan. 





 terima kasihku untuk kalian, 
yang tlah mlarungkan waktu, menghanyutkan masa
dalam kebersamaan ini


Mungkin pesta kata telah usai, 
tapi satu hal sematkan di hati, 
abadilah dongeng dengan segala harapan yang dibawanya.


Untuk:
Arrayanov
Rusdianto
Langit
Granito
Roni
Hamzet
Della
Inge
Agung
Acik
Youli
Elysabeth
Afandi
Erri Subakti



Sunday, 24 April 2011

The Party Must Not Over (PARADOKS)


Peri Laut, 
Aku mau cerita.. kamu duduk diam ya, dengarkan semua ceritaku.. jangan ngantuk! Ah sebenarnya tidak ceritapun kamu sudah tau seluruh isi cerita ku.. tapi please, biarkan aku membuat satu closing story, agar aku bisa mengenangnya kelak.

Thursday, 21 April 2011

Musik, Sastra Dan Nusantara



Malam ini, tentu saja malam yang amat berkesan bagi saya pribadi, duduk bersebelahan dengan Ibu Pia Alisyahbana, Feni Rose (presenter), Ananda Sukarlan (pianist kelas dunia made in Indonesia), di acara Charity Show yang diselenggarakan Sekar Pramita Foundation, bertempat di Griya Jenggala, kediaman Bapak Arifin Panigoro. 

Wednesday, 20 April 2011

Sajak Burung-burung Kondor (poenya) WS Rendra



Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

Djogja, 1973
Potret Pembangunan dalam Puisi